Aras Atas
Inggris Indonesia Jepang Arab

Donasi untuk Pengembangan Literasi

Bagikan donasi Anda untuk mendukung pengembangan Pustaka Buku dan Riset Literasi Aras Atas.

QR Code Neobank
Bagian Dua: Ki Barak Panji Sakti dan Pembelajaran Sejarah Milenial
Bagian Dua: Ki Barak Panji Sakti dan Pembelajaran Sejarah Milenial

Oleh: Suwardi Rasyid

Memaknai Pembelajaran Sejarah Lokal Panji Sakti, Sebagai Satu Contoh Pembentukan Karakter Bangsa

Historia magistra vitae (sejarah adalah guru kehidupan) kata Kartodirdjo, sementara Hanafi menegaskan “sejarah sebagai media bagi pembelajaran moral dan masa lalu”. Dalam setiap catatan peristiwa sejarah ada model yang bisa dijadikan contoh (baik dan buruk), karena apa pun yang mereka lakukan pada masa lalu merupakan model of dan model for pada konteks prilaku dan atau pengambilan keputusan kekinian, tegas Atmadja. Konfusius mencontohkan “jika untuk membuat mata pisau tajam harus diasah dengan batu, maka untuk menajamkan kebijaksanaan pada manusia haruslah diasah dengan manusia lainnya”. Semestinya dengan kesadaran ini, pendidikan sejarah haruslah menjadi yang terdepan dalam menganalisis, memberi rekomendasi, dan solusi atas permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Cross culture understanding atau silang pemahaman budaya bisa dijadikan sebagai satu langkah strategis dalam upaya penanganan semangat disintegrasi bangsa. Pengenalan sejarah Kerajaan Buleleng – Bali di bawah ini bisa dijadikan sebagai referensi acuan:

Potret Kerajaan Buleleng

Buleleng Bumi Panji Sakti ! Demikianlah slogan masyarakat buleleng untuk menunjukkan kebanggaan dan kecintaan mereka pada tanah kelahirannya. Ciri khas (steriotape) masyarakat buleleng memang terkenal paling “kasar” jika dibandingkan dengan masyarakat bali pada pada umumnya. Masyarakat bali meng-istilah-kan tipe masyarakat buleleng dengan sebutan “asah buleleng” (egaliter), artinya bahwa masyarakat buleleng kalau berbicara dan bersikap “pukul rata” tanpa peduli status sosial (Kasta = Trah keturunan). Sikapnya yang terbuka, dengan gaya bahasa yang lugas memang khas masyarakat pesisir (sekilas mirip tipe masyarakat surabaya). Karakter masyarakat buleleng ini terbentuk akibat proses budaya yang panjang, salah satunya adalah karena latar belakang pendirinya yang dianggap anak terbuang atau anak yang kelahiraannya tidak diharapkan, sehingga keberhasilannya dikemudian hari membangun Kerajaan Buleleng menjadikan kebanggan tersendiri bagi dirinya dan masyarakatnya, selain akibat banyaknya suku bangsa yang berinteraksi dengannya ketika menjadi kerajaan bercorak maritim yang mengembangkan perdagangan. 

I Gusti Anglurah Panji Sakti adalah pendiri Kerajaan Buleleng (1660). Masyarakat buleleng mengenalnya dengan jejuluk (nama panggilan) Ki Barak Panji Sakti. Ki Barak Panji Sakti adalah putra dari Dalem Sagening (Raja Gelgel /Klungkung) I Gusti Ngurah Jelantik, dengan pembantu istana (versi lain menyebutnya selir) yang bernama Ni Luh Pasek yang berasal dari Desa Panji wilayah Den Bukit. Dari garis ayahnya Ki Barak Panji Sakti sebenarnya diberikan nama I Gusti Gede Pasekan (ada yang menyebut: Gede Pasekan, atau Gusti Gede Kepasekan). Karena terlahir dari seorang selir, dan dikhawatirkan akan melakukan perebutan kekuasaan kepada putra mahkota, maka Ki Barak Panji Sakti kecil bersama ibunya dipulangkan ke Desa Panji Den Bukit. Namun “darah kesatria” tetaplah tidak bisa ditutupi, akhirnya Ki Barak Panji Sakti justru menjadi raja di Den Bukit, dan merubah nama Den Bukit menjadi Kerajaan Buleleng dengan pusat kota bernama Singaraja (1660 – 1732).

Kerajaan Buleleng di bawah kepemimpinan Ki Barak Panji Sakti tumbuh berkembang menjadi kerajaan pesisir dengan pelabuhan yang terkenal ramai dikunjungi pedagang. Terlebih dengan adanya awig-awig atau hukum adat yang telah disepakati oleh semua raja di Bali, yaitu Hak Tawan Karang atau Taban Karang. Hukum ini kurang lebihnya berbunyi: Kapal siapa pun yang memasuki perairan tanpa ijin terlebih dahulu, maka kapal beserta isinya menjadi hak penguasa pelabuhan (raja). Peraturan tentang kedaulatan wilayah perairan ini juga diberlakukan dengan ketat di Kerajaan Buleleng. Dalam catatan sejarah, ke-syahbandaran pelabuhan Kerajaan Buleleng pernah dikuasai oleh pedagang Cina. Era ini dikenal dengan istilah era perdagangan candu, karena nilai tukar barang disesuaikan dengan harga candu.

Raja Buleleng pernah melakukan penahanan atas dua kapal Belanda yang mencoba berlabuh tanpa melaporkan diri sebelumnya. Akibat peristiwa tersebut, Belanda melakukan serangan terhadap Kerajaan Buleleng (1846-1849) dan memaksa raja-raja di Bali untuk menyepakati perjanjian penghapusan awig-awig tentang hak tawan karang. Peristiwa perang puputan (habis-habisan) rakyat Buleleng melawan Belanda (1849) di Desa Jagaraga (wilayah Kecamatan Sawan) ini, menjadi bukti patriotisme, semangat persatuan, dan sekaligus bukti kesetiaan rakyat terhadap pemimpinnya. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan peristiwa Puputan Jagaraga.

Ada perbedaan prinsip mendasar dalam pola kepemimpinan Raja Panji Sakti dan keturunannya dalam memimpin Kerajaan Buleleng, jika dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan di Bali bagian Selatan. Raja Buleleng dalam pergaulannya dengan rakyatnya hampir tidak berjarak, sehingga kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan didasarkan atas apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya, termasuk kebijakan perang. Dengan kata lain, ketika rakyatnya bersinggungan dengan sesuatu, maka otomastis raja ada bersamanya. Sementara raja-raja di Bali selatan akan mengeluarkan kebijakan apabila terjadi persinggungan dengan elite istana. 

Singaraja Menjadi Ibukota Provinsi Sunda Kecil

Setelah melewati masa kerajaan bercorak maritim, dengan pola interaksi terbuka dengan pedagang-pedagang dari berbagai bangsa layaknya kerajaan yang memiliki pelabuhan besar pada umumnya, masyarakat buleleng pun akhirnya serentak bersama kerajaan-kerajaan nusantara lainnya masuk ke masa kemerdekaan. Pemerintah Republik Indonesia lewat PP No. 21/1950 (Lembaran Negara Tahun 1950 No. 59) menetapkan satu provinsi untuk wilayah timur pulau jawa dengan nama Provinsi Sunda Kecil, dengan Singaraja sebagai ibukota provinsi (ibukota Kabupaten Buleleng saat ini). Gubernur Sunda Kecil yang pertama sekaligus yang terakhir adalah Mr. Gusti Ketut Pudja. 

Pada masa Mr. Muhamad Yamin menjabat sebagai Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan (1953–1955), beliau mengganti istilah Kepulauan Sunda Kecil menjadi Kepulauan Nusa Tenggara. Sejalan dengan perubahan nama oleh Mr. Muhammad Yamin tersebut, maka pemerintah pusat lewat UU Darurat No. 99/1954 mengaskan bahwa Provinsi Sunda Kecil yang wilayahnya melingkupi Bali, NTB (Nusa Tenggara Barat), dan NTT (Nusa Tenggara Timur), kemudian berubah menjadi Provinsi Nusa Tenggara. Selanjutnya tanggal 6 Februari 1958 pemerintah kembali mengeluarkan undang-undang untuk mempertegas kewilyahan Provinsi Nusa Tenggara, yaitu UU No. 64/1958. Dalam UU ini ditegaskan bahwa Provinsi Nusa Tenggara dibagi dalam tiga daerah Swatantra Tingkat I. Swatantra tersebut adalah: Daerah Swatantra Tingkat I Bali, Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Barat dan Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Timur.   

Warisan Pluralisme Yang Terjaga Dengan Baik

Sisa-sisa cerita tentang kehebatan Kerajaan Buleleng sebagai kota pelabuhan masih bisa dilihat dan dirasakan sampai kini, misalnya; kompleks bangunan pelabuhan yang di renovasi menjadi balai pertemuan dan gedung museum. Oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng sejak tahun 2018 diprogramkan sebagai pusat museum Sunda Kecil. Tiang-tiang pancang sisa dermaga (hari ini dijadikan kompleks kuliner atas laut), Kelenteng /Vihara Cina (berlokasi persis di gerbang keluar masuk pelabuhan), dan yang unik juga adalah pemberian nama kampung sesuai etnis yang menempatinya; Ada kampung Bugis (untuk masyarakat sulawesi),kampung sasak (untuk masyarakat sasak /Lombok), kampung Jawa (sebagian besar masyarakat Madura), kampung Tinggi (etnis Cina), kampung Kajanan (etnis India /Pakistan), serta peninggalan bangunan tempat ibadah yang terkesan unik adalah Gerbang Masjid Jami’ Agung Singaraja (jika diambil garis lurus dari pelabuhan, berjarak sekitar 300 M) yang ber-ornamen-kan Swastika (ummat milenial mungkin menganggap ini “tidak lazim”).  

Gerbang kayu dengan ornamen swastika ini merupakan hadiah dari keluarga kerajaan, yang dikisahkan secara sembunyi mempelajari dan menganut agama Islam. Jejak sejarah yang menguatkan kisah ini adalah inventaris Masjid Jami’ Agung Singaraja berupa Al-Qur’an (ukuran + 1 M) berbahan kulit dan hasil tulisan tangan (pemberi hadiah), piring keramik, guci dan gerabah bermotif gambar cina, serta keberadaan Masjid Kuno di Banjar Jawa (+ 1 KM dari pelabuhan, ke arah selatan/ arah menuju istana, dan kalau dari istana sekitar + 500-600 M ke arah utara). Karena dekatnya pertalian darah keluarga kerajaan yang memeluk agama islam, maka lahirlah sebutan “nyama selam” atau saudara yang menganut agama islam. Istilah ini masih akrab di lidah dan di telinga masyarakat buleleng sampai saat ini. 

Keharmonisan hubungan antara masyarakat pemeluk Agama Hindu dan Agama Islam di Kabupaten Buleleng bukan hanya terlihat dan terasakan di wilayah kota saja, tetapi juga masih sangat terasa sampai ke seluruh wilayah. Beberapa wilayah pedesaan yang selama ini menjadi icon karena masih sangat kuat menjaga tradisinya antara lain; Desa Panji Anom, Desa Tegallinggah, dan Desa Pegayaman. Khusus untuk Desa Pegayaman, berbagai liputan media nasional terkait tradisi dan interaksi sosialnya telah banyak tersebar.

Dalam proses interaksi sosialnya, masyarakat di Desa Pegayaman yang mayoritasnya pemeluk agama islam bermufakat dengan penguasa buleleng dulunya untuk menggunakan urutan pemberian nama pada keturunan mereka (Gede/Putu/Wayan, Kadek/Made, Komang/Nyoman, dan Ketut). Hal ini merupakan hadiah istimewa bagi pendahulu masyarakat Desa Pegayaman, dan sampai saat ini masih terlestarikan dengan baik. Jadi jika hari ini kita mendengar dan atau memiliki teman yang nama depannya bercirikan nama Bali, dan nama akhirnya ciri nama islam, maka bisa dipastikan dia adalah putra asli pegayaman (Contohnya; Gede Maulana Iskandar /Nyoman Aminah/ Ketut Muhammad Ridwan, dll.). 

Selain dalam pemberian nama, tradisi yang sangat menarik di Desa Pegayaman adalah tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad. Puncak peringatan yang bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal penanggalan Tahun Hijriyah secara khusus dilaksanakan oleh pemerintah desa. Dalam proses pelaksanaan tradisi maulidan ini, akulturasi budaya yang khas terlihat: 1) Pembuatan Soko’. Soko’ dalam masyarakat Bali serupa dengan pajegan (buah dan atau hasil bumi yang disusun sedemikian rupa pada wadah yang sudah disiapkan, dan digunakan sebagai sarana upacara syukuran. Perbedaannya adalah bahan utama Soko’ adalah telur ayam, yang hiasannya terdiri dari daun sirih dan bunga rampai. 2) Pakaian Penabuh Burdah. Burdah adalah seni tabuh yang disertai dengan lantunan salawat nabi. Penabuh burdah Desa Pegayaman dalam tradisi maulidan menggunakan udeng batik (ikat kepala khas Bali), kemeja putih, dan kamben (kain batik yang diikat khusus khas Bali). 3) Tradisi Ngejot. Ngejot adalah tradisi berbagi kebahagiaan dengan berbagi makanan. Masyarakat Desa Pegayaman akan mengantarkan makanan kepada sanak famili dan sahabat tetangga (apapun agamanya), bukan hanya pada saat perayaan maulid nabi, tetapi juga pada saat mereka melakukan hajatan/selametan.

Menyame beraye atau saling tolong menolong dengan semangat gotong-royong juga merupakan tradisi yang masih kental terasa. Tradisi ini merupakan cerminan jiwa saling menghormati dan bertoleransi antara ummat hindu dan islam, bukan hanya pada suasana suka (semisal; syukuran atau selametan /pesta), tetapi juga dalam suasana duka (semisal; kematian). Selain itu, semangat toleransi juga akan terlihat jelas ketika ada kegiatan besar yang menyangkut kepentingan orang banyak yang membutuhkan pengamanan (perayaan hari besar agama; hajatan, dll), maka Pecalang (Pengaman Adat Bali) dan Pam Swakarsa (semisal; Banser) akan siap bekerjasama.

Memetik Nilai Karakter Bangsa Dari Sejarah Buleleng

Sebagai kota yang berdiri dan berkembang karena adanya pelabuhan pada masa kerajaan, dan menjadi pusat ibukota provinsi setelah kemerdekaan, maka ciri khas yang paling menonjol dari masyarakat buleleng adalah heterogenitasnya. Heterogenitas masyarakat pelabuhan dan atau perkotaan bukan semata dari sisi profesi yang geluti, namun juga asal kedaerahannya, suku bangsa, dan juga agama yang mereka anut sebagai suatu keyakinan. Heterogenitas atau keberagaman masyarakat pelabuhan dan atau kota ini kemudian secara sosiologis dan antropologis lazim disebut pluralisme.  

Dari sekilas perkenalan tentang sejarah lokal buleleng di atas, maka nilai-nilai karakter bangsa yang bisa dilanjutkan pewarisannya kepada generasi yang kita sebut sebagai generasi milenial di atas antara lain:

Nilai Kepemimpinan
Panji Sakti memposisikan dirinya sebagai bagian langsung dari rakyatnya, sehingga ia sangat dicintai. Inilah syarat utama untuk bisa menjadi seorang pemimpin.

Semangat Gotong Royong
Jiwa gotong royong (menyame beraye) merupakan modal bangsa dalam menyelesaikan setiap permasalahan. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, demikian pepatah mengajarkan. 

Semangat Saling Menghargai Perbedaan
Istilah nyama selam, dan menyame beraye dalam pergaulan sosial masyarakat buleleng sangat indah di dengar dan dirasakan. Pemberian nama ummat islam sesuai dengan urutan penamaan masyarakat Bali pun terlihat unik dan membanggakan. Hal ini akan mempersempit peluang terjadinya gesekan sosial.

Semangat Kepedulian Rakyat Terhadap Kondisi Bangsanya
Rakyat dengan kesadaran penuh ikut serta dalam menjaga kedaulatan raja dan kerajaannya, karena mereka merasa sebagai bagian tak terpisahkan dari keduanya.

Semangat Bela Negara
Patriotisme rakyat buleleng pada Perang Jagaraga adalah bukti nyata betapa kuatnya rasa cinta mereka terhadap negaranya.

Inilah poin-poin penting dalam pembelajaran sejarah lokal yang akan mampu mengantarkan generasi milenial menjadi generasi istimewa yang bertugas menjaga dan merawat bangsa Indonesia. 

Penguatan identitas kebangsaan lintas generasi menjadi tanggungjawab semua pihak. Konstruksi kebijakan pendidikan dan pengembangan kurikulum harus disesuikan dengan kebutuhan dan jiwa jaman. Program up-grading kemampuan tenaga pendidik wajib dilakukan. Konsep pembelajaran harus mampu mengkolaborasi antara kesenangan (yang sekaligus menjadi kelebihan generasi milenial) dengan proses pewarisan nilai karakter bangsa. Lewat pendampingan dan pengarahan guru pendidik pelajaran sejarah yang maksimal, maka nilai-nilai luhur kebangsaan yang kita miliki akan memenuhi media sosial, istagram, vlog, bahkan youtube secara masive lewat tangan-tangan kreatif generasi milenial. Generasi milenial memang patut dikhawatirkan, karena mereka adalah generasi emas Bangsa Indonesia.

Identitas Penulis

Foto Penulis
Suwardi Rasyid (Bonang)
Suwardi Rasyid hanyalah seorang guru mata pelajaran sejarah pada SMA Negeri 2 Gerokgak. Baginya, menulis menjadi ruang pilihan untuk mengeluarkan kegelisahan berpikir, karena dinding perdebatan akademik sangat tinggi temboknya, dan sangat besar gemboknya.
Tulisan ini diracik berdasarkan kumpulan data pengetahuan penulis, dan dihimpun dari berbagai sumber dokumen.

Komentar

Join the conversation

Aras Atas