Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS: Jejak Ceroboh, Dugaan Operasi Terselubung Menguat
Aras Atas - Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Andrie Yunus, memunculkan tanda tanya besar. Dugaan keterlibatan prajurit Badan Intelijen Strategis TNI justru memperdalam misteri: apakah ini murni aksi kriminal, atau bagian dari operasi yang lebih kompleks?
Empat prajurit BAIS TNI—Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES—telah diamankan dan kini diperiksa oleh Pusat Polisi Militer TNI. Namun, di balik penangkapan cepat itu, muncul kejanggalan yang sulit diabaikan.
Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menilai eksekusi di lapangan justru tampak terlalu ceroboh untuk ukuran operasi intelijen. Ia menyoroti tiga hal mendasar: pelaku tidak memakai sarung tangan, tidak menutup wajah, dan meninggalkan barang bukti di lokasi kejadian.
"Bisa lihat, ini orang katanya dari Bais (Badan Intelijen Strategis). Tapi betapa joroknya operasi mereka gitu. Enggak pakai tutup muka, enggak pakai sarung tangan, barang bukti dilempar begitu saja,"
Bagi Reza, pola ini membuka dua kemungkinan yang sama-sama serius. Pertama, pelaku memang tidak profesional. Kedua—dan ini lebih mengkhawatirkan—operasi sengaja dibuat “kotor” agar mudah terungkap.
Jika skenario kedua benar, maka peristiwa ini bisa masuk dalam kategori false flag operation: aksi yang dirancang untuk mengarahkan tudingan kepada pihak tertentu, sekaligus menutupi aktor sebenarnya. Dalam konteks ini, jejak yang berantakan bukan kelemahan, melainkan bagian dari desain.
Indikasi lain muncul dari perilaku pelaku yang dinilai seolah tidak berupaya menghindari penangkapan.
"Dan sejak awal saya katakan bahwa dua orang ini menyerahkan diri saja. Itu eksplisit saya kemukakan bahwa dua orang ini seperti menyerahkan diri saja, Kenapa? Karena kalian ini dipekerjakan agar kalian itu ditangkap,"
Reza juga membuka kemungkinan adanya rogue operation—operasi sempalan di dalam organisasi yang berjalan di luar garis komando resmi. Dalam skenario ini, aktor lapangan hanyalah bagian kecil dari struktur yang lebih besar.
Ia bahkan tidak menutup kemungkinan keterlibatan pihak dengan posisi lebih tinggi, meski menegaskan hal itu harus dibuktikan melalui proses hukum.
"Saya ingat-ingat lagi, pada sekian banyak peristiwa, TNI punya kesanggupan menindak pelaku misconduct hingga ke level perwira tinggi. Ini kontras jika kita bandingkan dengan penanganan kasus Novel Baswedan, misalnya,"
Di sisi lain, pihak TNI memastikan proses hukum berjalan. Yusri Nuryanto menyatakan para terduga pelaku telah diamankan dan kini ditahan di fasilitas militer dengan pengamanan maksimum di Pomdam Jaya, Jakarta.
"Jadi sekarang para tersangka sudah kita amankan, sudah kita lakukan pemeriksaan di Puspom TNI. Dan nanti untuk terkait tempat penahanannya, kita akan melakukan penahanan dititipkan di Pomdam Jaya, di sana ada tahanan Super Maximum Security,"
Penyelidikan tidak berhenti pada pelaku lapangan. Puspom TNI kini mulai menelusuri kemungkinan adanya pihak yang memberi perintah.
"Terkait perintahnya siapanya itu, nanti masih akan kita dalami. Perlu pengumpulan saksi dan bukti-bukti yang ada,"
Sementara itu, Aulia Dwi Nasrullah menegaskan penyelidikan internal akan dilakukan secara transparan dan profesional.
"Kita akan profesional dan akan kita lakukan secara transparan. Artinya sesuai dengan peraturan perundangan yang ada di lingkungan TNI,"
"Sehingga ini kita akan lakukan secara profesional, tidak gegabah. Ya artinya metode-metode yang ada di lingkungan kami di TNI, aparat penegak hukum sekarang sedang bekerja,"
Namun, semakin dalam kasus ini diurai, semakin terlihat bahwa persoalannya tidak sederhana. Kejanggalan di lapangan justru membuka kemungkinan bahwa peristiwa ini bukan sekadar aksi kekerasan, melainkan bagian dari skenario yang lebih besar.
Pertanyaan krusial pun mengemuka: apakah ini benar-benar ulah individu yang gagal mengeksekusi operasi, atau justru operasi yang sejak awal dirancang untuk terlihat gagal? | a.a

Komentar
Join the conversation