Aras Atas
Inggris Indonesia Jepang Arab

Donasi untuk Pengembangan Literasi

Bagikan donasi Anda untuk mendukung pengembangan Pustaka Buku dan Riset Literasi Aras Atas.

QR Code Neobank
Kemenag Perkuat Pembinaan Remaja dan Calon Pengantin melalui BRUN
Kemenag Perkuat Pembinaan Remaja dan Calon Pengantin melalui BRUN

Wakil Menteri Agama Hadiri Acara Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) 

BADUNG — Kementerian Agama memperkuat pembinaan remaja dan calon pengantin melalui program Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) dan penguatan keluarga sakinah. Program ini diarahkan untuk membekali generasi muda dengan kesiapan emosional, spiritual, sosial, dan ekonomi sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.

Ratusan mahasiswa, calon pengantin, dan perwakilan organisasi masyarakat mengikuti kegiatan BRUN di Gedung Madya Gosana, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung Mangupura, Rabu (23/9/2026). Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Romo H. R. Muhammad Syafi’i.

Hadir dalam kegiatan itu Direktur Bina Kantor Urusan Agama (KUA) dan Keluarga Sakinah Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI H. Ahmad Zayadi, jajaran Kanwil Kemenag Provinsi Bali, kepala KUA di wilayah Badung dan Kota Denpasar, serta mahasiswa dari Istnuba, Staida, ITB Stikom, dan Undiksha.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali I Gusti Made Sunartha mengatakan pernikahan bukan sekadar menyatukan dua individu. Pernikahan juga mempertemukan dua latar belakang, pengalaman, pola pikir, dan karakter yang berbeda.

“Anda disatukan, tidak disamakan. Karena perbedaan itulah Anda bersatu. Kuncinya adalah pengendalian diri, sama-sama mengendalikan diri,” pesan Sunartha kepada para peserta.

Menurut Sunartha, pembekalan bagi remaja usia nikah diperlukan karena kehidupan rumah tangga memiliki dinamika yang tidak selalu sesuai dengan bayangan seseorang sebelum menikah. Pengetahuan dan ruang belajar sebelum menikah, kata dia, dapat menjadi bekal bagi calon pengantin dan generasi muda dalam menjalani kehidupan keluarga.

“Karena itu, calon pengantin dan generasi muda perlu memperoleh pengetahuan serta ruang belajar sebelum benar-benar memasuki kehidupan berkeluarga” ujar Kakanwil.

Ia juga mengajak peserta memanfaatkan kegiatan tersebut untuk berdialog dengan para pemateri dan memperluas wawasan mengenai kehidupan rumah tangga.

Pembinaan keluarga dimulai sebelum pernikahan

Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Ditjen Bimas Islam Kemenag RI Ahmad Zayadi mengatakan pembinaan keluarga sakinah dirancang sebagai proses berkelanjutan. Pembinaan dilakukan sejak tahap persiapan, pertumbuhan, hingga keberlanjutan keluarga.

Menurut Zayadi, konstruksi layanan pembinaan keluarga sakinah dibagi menjadi tiga fase, yakni Start, Grow, dan Sustain.

Fase Start menggunakan pendekatan edukatif melalui sejumlah program, seperti Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN), dan Bimbingan Perkawinan bagi Calon Pengantin.

Fase Grow menggunakan pendekatan preventif melalui program SERASI (Sekolah Relasi Suami-Istri), literasi keuangan keluarga, serta penguatan relasi harmonis. Adapun fase Sustain menggunakan pendekatan solutif melalui KOMPAK (Konsultasi, Mediasi, Pendampingan, dan Advokasi), serta penguatan jejaring sosial melalui program LESTARI.

“Menikah itu bukan sesuatu ibadah yang pendek, tetapi perjalanan yang sangat panjang. Karena itu, sebelum memasuki pernikahan perlu ada penguatan-penguatan agar mereka memahami diri, menjaga akhlak, menata masa depan, dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga,” ujar Zayadi.

Ia mengatakan pembinaan keluarga tidak berhenti setelah pasangan menikah. Pasangan perlu terus belajar, bertumbuh, mengelola relasi dan keuangan, serta memiliki kemampuan menyelesaikan persoalan yang muncul dalam kehidupan rumah tangga.

Pembinaan tersebut juga diarahkan agar keluarga tidak hanya mencapai kondisi sakinah di lingkungan internal, tetapi berkembang menjadi keluarga maslahah yang memberikan manfaat bagi lingkungan sosial.

“Membangun keluarga sakinah itu memang dari awal hingga akhir. Dari keluarga yang sakinah, insyaallah menjadi cetak biru Indonesia ke depan akan terbentuk lebih baik,” jelasnya.

Kebahagiaan keluarga dan nilai agama

Wakil Menteri Agama RI Romo H. R. Muhammad Syafi’i mengatakan kehidupan keluarga merupakan bagian dari ikhtiar manusia untuk memperoleh kebahagiaan di dunia sekaligus mempersiapkan kehidupan akhirat.

Dalam pembukaan kegiatan, Romo mengajak mahasiswa dan calon pengantin memahami bahwa kebutuhan manusia, termasuk kebutuhan membangun keluarga, perlu diarahkan pada nilai-nilai agama.

“Yang membuat manusia bahagia di dunia itu ketika dia menaati Allah. Apa yang diatur Allah untuk kita, itu sesuai dengan fitrah kita,” tutur Wamenag.

Menurutnya, kehidupan keluarga tidak cukup dibangun berdasarkan perasaan. Pernikahan membutuhkan tanggung jawab, komitmen, pengendalian diri, serta kemauan untuk terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Ia juga mengatakan setiap orang memiliki tantangan dan kecenderungan yang berbeda dalam menjalani kehidupan. Karena itu, pernikahan dapat menjadi ruang bagi pasangan untuk saling menguatkan, menjalankan tanggung jawab, dan membangun kehidupan berdasarkan nilai agama.

Bagian dari Kemenag Berdampak

Penguatan keluarga melalui BRUN dan layanan keluarga sakinah menjadi bagian dari arah Asta Protas Kementerian Agama Berdampak, khususnya Layanan Keagamaan Berdampak. Asta Protas merupakan delapan program prioritas Kementerian Agama periode 2025–2029.

Dalam konteks pembinaan keluarga, layanan tersebut tidak berhenti pada pencatatan pernikahan. Kementerian Agama mendorong layanan yang mencakup persiapan kehidupan keluarga, pencegahan persoalan rumah tangga, penguatan relasi pasangan, hingga pendampingan ketika keluarga menghadapi masalah.

Arah tersebut menempatkan Kantor Urusan Agama tidak hanya sebagai tempat pelayanan administrasi pernikahan, tetapi juga sebagai ruang pembinaan masyarakat sebelum dan setelah pernikahan.

Kabid Bimas Islam Kanwil Kemenag Provinsi Bali Lewa Karma mengapresiasi kehadiran para peserta dari berbagai unsur kampus, masyarakat, dan calon pengantin dari wilayah Denpasar, Badung, dan Tabanan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan BRUN.

Lewa mengatakan kegiatan BRUN merupakan program nasional yang ditempatkan di Bali. Menurutnya, kehadiran langsung Wakil Menteri Agama dan Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut.

“Kegiatan BRUN ini merupakan bukti nyata kehadiran Kementerian Agama di Masyarakat menyiapkan generasi dan keluarga masa depan agar memiliki literasi keluarga SAMAWA yang kelak akan menjadi bagian pentng dalam pembangunan bangsa yang memberi dampak positif menuju Indonesia emas 2045” ujar Kabid Bimais.

Kanwil Kemenag Provinsi Bali selanjutnya mendorong agar layanan keagamaan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Pembinaan keluarga, menurut arah program tersebut, dimulai sejak sebelum pernikahan melalui kesiapan yang direncanakan secara matang.

Pesan yang mengemuka dalam kegiatan BRUN tersebut adalah bahwa persiapan pernikahan tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan acara. Generasi muda dan calon pengantin juga perlu mempersiapkan kehidupan yang akan dijalani setelah pernikahan. |a.a

Komentar

Join the conversation