Oleh: Suwardi Rasyid
Interaksi Virtual Sebagai Prolog
Anak-anak yang sekarang berusia belasan tahun, kerap disebut generasi milenial. Selain karena mereka dilahirkan pascapergantian millenium, ada beberapa ciri lain terkait karakteristik generasi ini, sangat tergantung pada internet dan gawai, aktif di berbagai media sosial, serba praktis dan instan, serta sangat melek teknologi kekinian. Tentu saja realitas yang dialami generasi ini, disebabkan oleh pesatnya perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, dan sekat-sekat bangsa yang makin hilang (globalisasi).
Kondisi generasi milenial seperti itu, secara obyektif bisa jadi
berkah atau bahkan musibah. Menjadi berkah ketika penguasaan teknologinya
dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai ajang kreatifitas untuk memperkenalkan
identitas diri, bangsa, dan negaranya secara positif. Saat yang bersamaan juga bisa
jadi sumber musibah karena mudah percaya pada informasi-informasi yang melintas
di layar gawainya, dan larut menjadi rapuh akibat malas mengkritisi informasi dengan check dan
cross-check.
Asumsi bahwa media sosial itu
mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat merambah prilaku generasi
milenial. Keaktifan mereka di media sosial menjadi penyebab mereka makin jauh
dari kehidupan sosial yang nyata. Tentu saja, pada gilirannya akan terjadi
alienasi budaya. Gotong royong nyata bergeser menjadi gotong royong virtual.
Sebagai satu contoh; Kasus Prita Mulyasari, ibu dua anak,
mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang, Banten, yang mengeluh
melalui surat elektronik dan menyebar di internet mengenai layanan RS Omni
Internasional Alam Sutera, pada Agustus 2008. Publik di dunia internet
(netizen), kemudian ramai-ramai membantu dia membayar vonis denda, dengan
gerakan Koin untuk Prita. Inilah bukti adanya gotong royong virtual. Namun,
di balik gerakan positif itu, ada yang perlu dikiritisi. Generasi milenial
hanya akan melihat realitas di dunia maya, bukan dunia nyata. Mereka lebih
percaya bahwa pencitraan itu adalah kenyataan.
Generasi milenial ini juga sangat rentan
dimobilisasi, jika dunia interaksi virtual mereka dipenuhi informasi yang bisa
menyinggung emosi mereka. Proses pemilihan presiden yang baru saja lewat salah
satu contohnya. Pembentukkan citra bahwa kelompok muslim dimarginalkan oleh
pemerintah saat ini, betul-betul didesain.
Berita bohong (hoax) soal ini diproduksi secara masif di dunia
maya. Tak sedikit yang kemudian dipenjara karena hoax. Beberapa orang di antara
mereka adalah generasi milenial yang baru tersadar setelah diusut oleh polisi.
Pada sisi lain, nilai-nilai tinggi budaya bangsa
yang toleran, inklusif, menumbuhkan nasionalisme, teramat jarang ditemui di
dunia maya pun didunia nyata. Lembaga pendidikan formal, yang menjadi salah
satu pilar untuk mentransformasi nilai-nilai adiluhung tersebut selalu
ketinggalan dalam mengantisipasi fenomena yang berjalan serba cepat tersebut.
Bahkan pendidikan sejarah yang diharapkan jadi menyumbang terbesar atas
pembentukan karakter bangsa juga terlambat mengantisipasi hal tersebut.
Dalam tulisan ini akan dipaparkan, bagaimana dampak negatif realitas maya yang menjadi ruang interaksi generasi millenial, bisa direduksi lewat revitalisasi nilai-nilai lokal genius masa lalu dalam pembelajaran sejarah. Sebagai fokus model, dan seting sejarahnya adalah Panji Sakti dengan Kerajaan Buleleng-nya di Bali. Tokoh ini mampu mendesain model pemerintahannya yang toleran, inklusif, dan egaliter.
Membangun Kesadaran Kebangsaan Generasi Milenial
Rekatnya ribuan suku yang menopang
bangsa Indonesia dalam kemesraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
merupakan prestasi sejarah yang telah teruji selama ribuan tahun. Indonesia
telah membuktikan bahwa pluralisme bukanlah masalah dalam mewujudkan persatuan
dan kedamaian. Untuk membentuk karakter generasi muda sesuai dengan kebutuhan
bangsa diperlukan satu sistem pengenalan budaya yang mampu memberikan ruang
bagi terjadinya silang pemahaman budaya. Silang pemahaman budaya akan menjadi
ruang generasi muda untuk mengkaji kearifan budaya yang mereka miliki,
dibandingkan dengan kearifan budaya daerah lainnya. Proses ini akan
mengantarkannya menjadi generasi bangsa yang berwawasan, dan bijaksana dalam
kehidupan pribadinya serta kehidupan berbangsanya.
Bhineka
Tunggal Ika sebagai motto bangsa adalah kristalisasi
dari silang pemahaman budaya. Motto inilah yang selama ini terlewatkan untuk
diperkenalkan dan ditanamkan dalam pemahaman generasi milenial. Pasca-reformasi
Demokrasi Pancasila seakan tergantikan oleh Demokrasi Liberal. Mulailah
paham-paham trans-nasional berkembang dan bermuara pada instabilitas kehidupan
berbangsa dan bernegara kita saat ini.
Bangsa kita sedang mengalami shock culture. Terjadi
ketidak-seimbangan kepribadian (personal maupun kelompok) dengan laju
globalisasi yang dihadapi. Pewarisan karakter bangsa yang belum maksimal menjadi
salah satu penyebabnya. Psikologis generasi muda kita labil, sangat mudah
diombang-ambing situasi dan kondisi hanya berdasarkan sebaran informasi lewat
media sosial. Hasan (kolom detiknews) mencontohkan, betapa kegaduhan pesta
demokrasi yang baru saja terlewati, mampu membangun fanatisme politik “berbalut
agama” sampai pada generasi yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Anak-anak
yang semestinya masih sibuk dengan komik, game, dan kelompok bermainnya,
ternyata ikut tergerus oleh prilaku orang tua, guru, bahkan lingkungan
masyarakatnya sebagai akibat dari komsumtifnya terhadap trend media serta arus
informasi.
Dalam sudut pandang sejarah, pembentukan
karakter budaya bangsa (nusantara) bukanlah hasil isolasi diri, tetapi
merupakan hasil proses akulturasi. Generasi
milenial belum melakukannya, sehingga pijakannya goyah. Karakter itu sangat
erat kaitannya dengan identitas diri dan komunitas, maka tanggungjawab
pembentukan karakter ini menjadi beban besar bagi; keluarga, masyarakat, dan
lembaga pendidikan sebagai (Tri Pusat Pendidikan).
Enkulturasi budaya lewat pendidikan
awal dalam keluarga ibarat menebar benih di lahan kosong. Benih-benih yang
telah ditebar tersebut selanjutnya disiram dan diberikan pupuk alami oleh
masyarakat. Lembaga pendidikan lewat tenaga pendidiknya (khususnya mata
pelajaran sejarah) harus mampu memberikan sentuhan perawatan, dan
menginjeksinya dengan asupan tambahan sehingga benih tumbuh dan berkembang
dengan baik, sehat, dan kuat.
Restrukturisasi pemahaman budaya
sebagai suatu karakter bangsa lewat penguatan pendidikan dan pembelajaran
sejarah lokal adalah jawaban yang mesti dilakukan dan diberikan kepada segenap
warga bangsa, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih tertata
dan semakin baik. Badan Pusat Statistik Nasional (2018) dalam riset khususnya
tentang Profil Masyarakat Milenial Indonesia menyimpulkan bahwa; Generasi
milenial merupakan generasi yang sangat mahir dalam bidang teknologi.
Keunggulan generasi ini dalam pengusaan teknologi dapat dilihat dari besarnya
persentase generasi milenial dalam hal penggunaan telepon seluler (hp)
/nirkabel, komputer (pc/dekstop, laptop/notebook, tablet), dan akses terhadap
internet. Hampir separuh pengguna teknologi internet ditempati oleh kaum
milenial.
Dengan modal penguasaan dalam bidang
teknologi, dan didukung oleh kebijakan pemerintah untuk menerapkan Kurikulum Merdeka
dengan pendekatan mendalam (sesuai arahan mentri)) yang berlandaskan pada
penyesuaian kemampuan daerah dan sekolah, maka upaya untuk membangun kesadaran
kebangsaan generasi milenial menjadi sangat mungkin. Paradigma dan kemampuan
tenaga pendidiklah yang harus di upgrade.
Pengenalan sejarah lokal bisa dilakukan dan di bangun lewat pemberian
pengalaman langsung. Semisal, pemberian tugas observasi situs-situs sejarah
lokal, dan atau wawancara terkait tokoh-tokoh lokal, dengan kewajiban membuat
video hasil kerja mereka. Rekaman video ditayangkan di dalam kelas, dan menjadi
bahan diskusi untuk dinarasikan sesuai catatan fakta sejarah. Hasil ahirnya
adalah mereka diijinkan untuk meng-upload video tersebut ke istagram, youtube, atau vlog. Ada
korelasi positif antara kesenangan, dan proses pendidikan dalam internalisasi
kearifan lokal, dengan demikian generasi ini tentunya akan memiliki peluang
yang besar untuk meraih bonus demografi sebagai warga negara yang lebih baik
dibandingkan generasi sebelumnya.
Baca Bagian Dua (Ulasan Selanjutnya)

Komentar
Join the conversation