Aras Atas
Inggris Indonesia Jepang Arab

Donasi untuk Pengembangan Literasi

Bagikan donasi Anda untuk mendukung pengembangan Pustaka Buku dan Riset Literasi Aras Atas.

QR Code Neobank
Bagian Satu: Ki Barak Panji Sakti dan Pembelajaran Sejarah Millenial
Bagian Satu: Ki Barak Panji Sakti dan Pembelajaran Sejarah Millenial

 Oleh: Suwardi Rasyid

Interaksi Virtual Sebagai Prolog

Anak-anak yang sekarang berusia belasan tahun, kerap disebut generasi milenial. Selain karena mereka dilahirkan pascapergantian millenium, ada beberapa ciri lain terkait karakteristik generasi ini, sangat tergantung pada internet dan gawai, aktif di berbagai media sosial, serba praktis dan instan, serta sangat melek teknologi kekinian. Tentu saja realitas yang dialami generasi ini, disebabkan oleh pesatnya perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, dan sekat-sekat bangsa yang makin hilang (globalisasi). 

Kondisi generasi milenial seperti itu, secara obyektif bisa jadi berkah atau bahkan musibah. Menjadi berkah ketika penguasaan teknologinya dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai ajang kreatifitas untuk memperkenalkan identitas diri, bangsa, dan negaranya secara positif. Saat yang bersamaan juga bisa jadi sumber musibah karena mudah percaya pada informasi-informasi yang melintas di layar gawainya, dan larut menjadi rapuh akibat malas  mengkritisi informasi dengan check dan cross-check.

Asumsi bahwa media sosial itu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat merambah prilaku generasi milenial. Keaktifan mereka di media sosial menjadi penyebab mereka makin jauh dari kehidupan sosial yang nyata. Tentu saja, pada gilirannya akan terjadi alienasi budaya. Gotong royong nyata bergeser menjadi gotong royong virtual. Sebagai satu contoh; Kasus Prita Mulyasari, ibu dua anak, mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang, Banten, yang mengeluh melalui surat elektronik dan menyebar di internet mengenai layanan RS Omni Internasional Alam Sutera, pada Agustus 2008. Publik di dunia internet (netizen), kemudian ramai-ramai membantu dia membayar vonis denda, dengan gerakan Koin untuk Prita. Inilah bukti adanya gotong royong virtual. Namun, di balik gerakan positif itu, ada yang perlu dikiritisi. Generasi milenial hanya akan melihat realitas di dunia maya, bukan dunia nyata. Mereka lebih percaya bahwa pencitraan itu adalah kenyataan.


Generasi milenial ini juga sangat rentan dimobilisasi, jika dunia interaksi virtual mereka dipenuhi informasi yang bisa menyinggung emosi mereka. Proses pemilihan presiden yang baru saja lewat salah satu contohnya. Pembentukkan citra bahwa kelompok muslim dimarginalkan oleh pemerintah saat ini, betul-betul didesain.  Berita bohong (hoax) soal ini diproduksi secara masif di dunia maya. Tak sedikit yang kemudian dipenjara karena hoax. Beberapa orang di antara mereka adalah generasi milenial yang baru tersadar setelah diusut oleh polisi.

Pada sisi lain, nilai-nilai tinggi budaya bangsa yang toleran, inklusif, menumbuhkan nasionalisme, teramat jarang ditemui di dunia maya pun didunia nyata. Lembaga pendidikan formal, yang menjadi salah satu pilar untuk mentransformasi nilai-nilai adiluhung tersebut selalu ketinggalan dalam mengantisipasi fenomena yang berjalan serba cepat tersebut. Bahkan pendidikan sejarah yang diharapkan jadi menyumbang terbesar atas pembentukan karakter bangsa juga terlambat mengantisipasi hal tersebut.

Dalam tulisan ini akan dipaparkan, bagaimana dampak negatif  realitas maya yang menjadi ruang interaksi generasi millenial, bisa direduksi lewat revitalisasi nilai-nilai lokal genius masa lalu dalam pembelajaran sejarah. Sebagai fokus model, dan seting sejarahnya adalah Panji Sakti dengan Kerajaan Buleleng-nya di Bali. Tokoh ini mampu mendesain model pemerintahannya yang toleran, inklusif, dan egaliter.

Membangun Kesadaran Kebangsaan Generasi Milenial

Rekatnya ribuan suku yang menopang bangsa Indonesia dalam kemesraan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan prestasi sejarah yang telah teruji selama ribuan tahun. Indonesia telah membuktikan bahwa pluralisme bukanlah masalah dalam mewujudkan persatuan dan kedamaian. Untuk membentuk karakter generasi muda sesuai dengan kebutuhan bangsa diperlukan satu sistem pengenalan budaya yang mampu memberikan ruang bagi terjadinya silang pemahaman budaya. Silang pemahaman budaya akan menjadi ruang generasi muda untuk mengkaji kearifan budaya yang mereka miliki, dibandingkan dengan kearifan budaya daerah lainnya. Proses ini akan mengantarkannya menjadi generasi bangsa yang berwawasan, dan bijaksana dalam kehidupan pribadinya serta kehidupan berbangsanya.

Bhineka Tunggal Ika sebagai motto bangsa adalah kristalisasi dari silang pemahaman budaya. Motto inilah yang selama ini terlewatkan untuk diperkenalkan dan ditanamkan dalam pemahaman generasi milenial. Pasca-reformasi Demokrasi Pancasila seakan tergantikan oleh Demokrasi Liberal. Mulailah paham-paham trans-nasional berkembang dan bermuara pada instabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara kita saat ini.

Bangsa kita sedang mengalami shock culture. Terjadi ketidak-seimbangan kepribadian (personal maupun kelompok) dengan laju globalisasi yang dihadapi. Pewarisan karakter bangsa yang belum maksimal menjadi salah satu penyebabnya. Psikologis generasi muda kita labil, sangat mudah diombang-ambing situasi dan kondisi hanya berdasarkan sebaran informasi lewat media sosial. Hasan (kolom detiknews) mencontohkan, betapa kegaduhan pesta demokrasi yang baru saja terlewati, mampu membangun fanatisme politik “berbalut agama” sampai pada generasi yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Anak-anak yang semestinya masih sibuk dengan komik, game, dan kelompok bermainnya, ternyata ikut tergerus oleh prilaku orang tua, guru, bahkan lingkungan masyarakatnya sebagai akibat dari komsumtifnya terhadap trend media serta arus informasi.

Dalam sudut pandang sejarah, pembentukan karakter budaya bangsa (nusantara) bukanlah hasil isolasi diri, tetapi merupakan hasil proses akulturasi. Generasi milenial belum melakukannya, sehingga pijakannya goyah. Karakter itu sangat erat kaitannya dengan identitas diri dan komunitas, maka tanggungjawab pembentukan karakter ini menjadi beban besar bagi; keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan sebagai (Tri Pusat Pendidikan).

Enkulturasi budaya lewat pendidikan awal dalam keluarga ibarat menebar benih di lahan kosong. Benih-benih yang telah ditebar tersebut selanjutnya disiram dan diberikan pupuk alami oleh masyarakat. Lembaga pendidikan lewat tenaga pendidiknya (khususnya mata pelajaran sejarah) harus mampu memberikan sentuhan perawatan, dan menginjeksinya dengan asupan tambahan sehingga benih tumbuh dan berkembang dengan baik, sehat, dan kuat.

Restrukturisasi pemahaman budaya sebagai suatu karakter bangsa lewat penguatan pendidikan dan pembelajaran sejarah lokal adalah jawaban yang mesti dilakukan dan diberikan kepada segenap warga bangsa, sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih tertata dan semakin baik. Badan Pusat Statistik Nasional (2018) dalam riset khususnya tentang Profil Masyarakat Milenial Indonesia menyimpulkan bahwa; Generasi milenial merupakan generasi yang sangat mahir dalam bidang teknologi. Keunggulan generasi ini dalam pengusaan teknologi dapat dilihat dari besarnya persentase generasi milenial dalam hal penggunaan telepon seluler (hp) /nirkabel, komputer (pc/dekstop, laptop/notebook, tablet), dan akses terhadap internet. Hampir separuh pengguna teknologi internet ditempati oleh kaum milenial.

Dengan modal penguasaan dalam bidang teknologi, dan didukung oleh kebijakan pemerintah untuk menerapkan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan mendalam (sesuai arahan mentri)) yang berlandaskan pada penyesuaian kemampuan daerah dan sekolah, maka upaya untuk membangun kesadaran kebangsaan generasi milenial menjadi sangat mungkin. Paradigma dan kemampuan tenaga pendidiklah yang harus di upgrade. Pengenalan sejarah lokal bisa dilakukan dan di bangun lewat pemberian pengalaman langsung. Semisal, pemberian tugas observasi situs-situs sejarah lokal, dan atau wawancara terkait tokoh-tokoh lokal, dengan kewajiban membuat video hasil kerja mereka. Rekaman video ditayangkan di dalam kelas, dan menjadi bahan diskusi untuk dinarasikan sesuai catatan fakta sejarah. Hasil ahirnya adalah  mereka diijinkan untuk meng-upload video tersebut ke istagram, youtube, atau vlog. Ada korelasi positif antara kesenangan, dan proses pendidikan dalam internalisasi kearifan lokal, dengan demikian generasi ini tentunya akan memiliki peluang yang besar untuk meraih bonus demografi sebagai warga negara yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. 

Baca Bagian Dua (Ulasan Selanjutnya)

Identitas Penulis

Foto Penulis
Suwardi Rasyid (Bonang)
Suwardi Rasyid hanyalah seorang guru mata pelajaran sejarah pada SMA Negeri 2 Gerokgak. Baginya, menulis menjadi ruang pilihan untuk mengeluarkan kegelisahan berpikir, karena dinding perdebatan akademik sangat tinggi temboknya, dan sangat besar gemboknya.
Tulisan ini diracik berdasarkan kumpulan data pengetahuan penulis, dan dihimpun dari berbagai sumber dokumen.

Komentar

Join the conversation

Aras Atas